Komposisi


Komposisi

PENDAHULUAN

1.   Bahasa
Pada waktu-waktu terakhir ini makin dirasakan betapa pentingnya fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Kenyataan yang dihadapi dewasa ini adalah bahwa, selain ahli-ahli bahasa, semua ahli yang bergerak  dalam bidang pengetahuan yang lain semakin memperdalam dirinya dalam bidang teori dan praktik bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

2.   Aspek Bahasa
Bahasa mencakup dua bidang, yaitu bunyi vokal yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan arti atau makna yaitu hubungan antara rangakain bunyi vokal dengan barang atau hal yang diwakilinya itu. Arti yang terkandung dalam suatu rangkaian bunyi bersifat arbitrer atau manasuka. Arbitrer atau manasua berarti tidak terdapat suatu keharusan bahwa suatu rangkaian bunyi tertentu harus mengandung arti yang tertentu pula.

Makna sebuah kata tergantung dari konvensi (kesepakatan) masyarakat bahasa yang bersangkutan. Apaah seekor hewan dengan ciri-ciri tertentu dinamakan anjing, dog, hund, chien atau canis itu tergantung pada kesepaatan anggota masyarakat bahasa itu masing-masing.

3.    Fungsi Bahasa
 Fungsi bahasa dapat diturunkan dari dasar atau motif pertumbuhan bahasa itu sendiri. Dasar dan motif pertumbuhan bahasa itu dalam garis besarnya berupa:

a.        Alat untuk Menyatakan Ekspresi Diri
  Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain:
1.    Agar menarik perhatian orang lain terhadap kita.
2.    Keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.

b.         Alat Komunikasi
  Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tida diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan, pikirkan dan ita ketahui kepada orang lain.

c.    Alat Mengadakan Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa, disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman merea, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Melalui bahasa seorang anggota masyarakat perlahan-lahan belajar mengenal segala adat-istiadat, tingkah laku, dan tata-krama masyarakat.

d.        Alat Mengadakan Kontrol Sosial
Yang dimaksud dengan kontrol sosial adalah usaha untuk mempengaruhi tingkah laku dan tindak-tanduk orang-orang lain. Tingkah laku itu dapat bersifat terbuka (overt:yaitu tingkah laku yang dapat diamati atau diobservasi) maupun yang bersifat tertutup (covert:yaitu tingkah laku yang tidak dapat diobservasi).

4.        Tujuan Kemahiran Berbahasa
 Melihat fungsi-fungsi bahasa sebagai sebagai dikemukan diatas terutama fungsi sebagai alat komuniasi dan kontrol sosial, maka maksud utama dari buku ini ialah berusaha untuk memberikan dasar-dasar guna memperoleh emahiran berbahasa, baik penggunaan bahasa secara lisan maupun tertulis, agar mereka yang mendengar atau diajak bicara, dengan mudah dapat memahami apa yang dimaksud.

         Kemahiran berbahasa aan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat, bila dipergunakan sebagai alat komunikasi yang baik terhadap komuniasi yang baik terhadap sesama warga masyarakat, bila ia memungkinkan kita mengembangkan kesanggupan kita untu dapat mempengaruhi orang lain dalam mengembangkan kontrol sosial yang diinginkan.

5.    Manfaat Tambahan
 Bila tujuan utama tercapai, yaitu sudah memperoleh kemahiran berbahasa, maka secara implisit kita memperoloeh pula beberapa macam kesanggupan lain. Kesanggupan-kesanggupan tersebut akan muncul dengan sendirinya pada tahap seorang betul-betul mahir berbahasa ialah:

a.       Kita lebih mengenal diri kita sendiri.
b.       Kita lebih dalam memahami orang lain.
c.       Belajar mengamati dunia sekitar denagn lebih cermat.
d.       Kita mengembangkan suatu proses berpikir yang jelas dan teratur.

6.    Kesimpulan
 Kemahiran berbahasa bertujuan melancaran komunikasi yang jelas dan teratur dengan semua anggota masyarakat. Ia memungkinkan terpeliharanya tata sosial, adat-istiadat, kebiasaan, dan sebagainya, melalalui pengkhususan dari fungsi komutatif tadi. Jadi yang paling utama dari emahiran berbahasa adalah pemakaian bahasa secara baik untuk kepentingan tiap individu dalam masyarakat, untuk kebaikan umat manusia itu sendiri.



BAB I
PUNGTUASI

1.        Pentingya Pungtuasi
 Bahasa dalam pengertian sehari-hari adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulis merupaan pencerminan kembali dari bahsa lisan itu dalam bentuk simbol-simbol tertulis. Dalam percakapan-percakapan secara lisan jelas terdengar bahwa kata-kata seolah-seolah dirangkaikan satu sama lain, serta di sana-sini terdengar perhentian sebentar atau agak lama dengan suara agak menaik atau menurun.

2.       Dasar Pungtuasi
  Bahasa itu terdiri dari dua aspek yaitu aspek bentuk dan aspek makna. Aspek bentu dapat dibagi lagi menjadi dua unsur bagian yang besar yaitu unsur segmental dan unsur suprasegmental. Unsur segmental yaitu unsur bahasa yang dapat dibagi-bagi atas bagian-bagian yang lebih kecil yang meliputi: fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana.

Sebaliknya unsur suprasegmental adalah unsur bahasa yang kehadirannya tergantung dari kehadiran unsur segmental, yang terdiri dari: tekanan keras, tekanan tinggi (nada) dan tekanan panjang, dan dalam bentuk lebih luas kita kenal sebagai intonasi. Pungtuasi itu dibuat berdasarkan dua hal utama yang saling melengkapi, yaitu:

1.       Didasarkan pada unsur suprasegmental;
2.       Didasarkan pada hubungan sintaksis, yakni:
a.       Unsur-unsur sintaksis yang erat hubungannya tidak boleh dipisahkan dengan tanda-tanda baca;
b.       Unsur-unsur sintaksis yang tidak erat hubungannya harus dipisahkan dengan tanda-tanda baca.
3.       Macam-macam Pungtuasi
Pungtuasi yang lazim dipergunakan dewasa ini didasarkan atas nada dan lagu (suprasegmental), dan sebagin didasarkan atas relasi gramedial, frasa, dan relasi-relasi antar bagian kalimat (hubungan sintasis). Tanda-tanda tersebut adalah:

a.      Titik
  Titik atau perhentian akhir biasanya dilambangkan dengan tanda ini lazimnya dipakai  untuk:

1.     Menyataan akhir dari sebuah tutur atau kalimat.
Contoh: Bapak sudah pergi kekantor.
             Tidak ada yang perlu ditakuti.
2.      Tanda titik dipakai pada akhir singkatan, gelar, jabatan, pangkat, dan singkatan kata atau ungkapan yang sudah lazim. Pada singkatan yang terdiri dan tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik. Semua singkatan atau kata yang mempergunakan inisial atau akronim tidak mempergunakan titik: MPR, DPR, ABRI,Hankam, Kopkamtib, Ampera, Lemhanas, dsb.
3.      Tanda titik dipergunakan untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang menunjukkan jumlah; juga dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik. Bila bilangan itu tidak menunjukkan jumlah maka tanda titik itu tidak dipergunakan.

b.          Koma
Koma atau perhentian antara yang menunjukkan suara menaik ditengah-tengah tutur, biasanya dilambangkan dengan tanda (,). Di samping untuk menyatakan perhentian antara (dalam kalimat), koma juga dipakai untuk beberapa tujuan tertentu.

Dalam hal-hal berikut dapat dipergunakan tanda koma:

1. Untuk memisahkan bagian-bagian kalimat, antara kalimat setara yang menyatakan pertentangan, antara anak kalimat dan induk kalimat, dan antara anak kalimat dan anak kalimat. Contoh: Ia sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi tujuannya tidak tercapai.
2.    Koma dipergunakan untuk menandakan suatu bentuk parentetis (keterangan-  keterangan tambahan yang biasanya ditempatkan juga dalam kurung) dan unsur-unsur yang tak restriktif.
3.   Tanda koma dipergunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat mendahului induk kalimatnya, atau untuk memisahkan induk kalimat dengan sebuah bagian pengantar yang terletak sebelum induk kalimat.
4.     Koma dipergunakan untuk menceraikan beberapa kata yang disebut berturut-turut.
5.     Tanda koma dipakai dibelakang kata atau ungkapan transisi yang terdapat pada awal kalimat.
6.          Koma selalu dipergunakan untu menghindari salah baca atau keragu-raguan.
7.          Koma dipakai untuk menandakan seseorang yang diajak bicara.
8.        Koma dipaai juga untuk memisahkan aposisi dari kata yang diterangkan.
9.       Koma dipakai untuk memisahkan kata-kata afektif seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari bagian kalimat lainnya.
10.  Tanda koma yang dipakai untuk memisahkan sebuah ucapan langsung dari berbagai kalimat dari bagian kalimat lainnya.
11.       Koma juga dipergunakan untuk beberapa tujuan.

c.          Titik-Koma
Fungsi titik-koma sebenarnya terletak antara titik dan koma. Disatu pihak orang ingin melanjutkan kalimatnya dengan bagian-bagian kalimat berikutnya, tetapi dipihak lain dirasakn bahwa bagian kalimat tadi sudah dapat diakhiri dengan sebuah titik. Sebab itu titik-koma itu dilambangkan dengan sebuah titik diatas sebuah koma (;).

Titik-koma dipakai dalam hal-hal berikut:

1.          Untuk memisahkan dua bagian kalimat yang sederajat, dimana tidak dipergunakan kata-kata sambung.
2.          Titik-koma dipergunakan juga untuk memisahkan anak-anak kalimat yang sederajat.
3.          Untuk memisahkan sebuah kalimat yang panjang dan mengandung subjek yang sama, serta terdapat perhentian yang lebih lama dari koma biasa; teristimewa titik-koma itu dipergunakan bila dalam bagian kalimat terdahulu telah dipergunakan koma.
4.          Memisahkan ayat-ayat atau perincian-perincian yang bergantung pada suatu pasal atau pada suatu induk kalimat yang sederajat, sedangkan bagian yang kedua menerangkan atau menegaskan bagian yang pertama.

d.          Titik-Dua
Titik-dua yang biasanya dilambangkan dengan (:). Biasanya dipegunakan dalam hal-hal berikut:

1.          Sebagai pengantar sebuah kutipan yang panjang, baik yang diambil dari sebuah buku, majalah dan sebagainya, maupun dari sebuah ucapan langsung.
2.          Titik-dua dipakai pada akhir suatu pertanyaan yang lengkap, tetapi diikuti suatu rangkain atau pemerian.
3.          Titik-dua dipergunakan juga sebagai pengantar sebuah pernyataan atau kesimpulam.
4.          Walaupun sangat jarang, titik-dua dapat juga untu memisahkan dua kalimat yang sederajat, sedangkan bagian yang kedua menerangkan atau menegaskan bagian yang pertama.
5.          Titik-dua dipakai sesudah kata atau frasa memelukan pemerian.
6.          Dalam teks drama atau dialog, titik-dua dipakai sesudah kata  yang menunjukkan kata percakapan.

e.       Tanda Kutip
Tanda kutip yang biasanya dilambangkan dengan (“....”) atau (‘....’), dipergunakan untuk dalam hal-hal berikut:

1.          Untuk mengutip kata-kata seseorang, atau sebuah kalimat atau suatu bagian yang penting dari buku, majalah, dan sebagainya.
2.          Tanda utip dipergunakan untuk menulis judul karangan (artikel), syair atau bab buku.
3.          Tanda kutip dipakai untuk menyatakan sebuah kata asing atau sebuah kata yang diistimewakan atau mempunyai arti khusus.
4.          Tanda kutip dalam tanda kutip; bila terdapat sebuah kutipan dalam sebuah kutipan, maka masing-masingnya harus dibedakan dengan tanda kutip yang berlainan.
5.          Tanda kutip tunggal dipakai untuk mengapit terjemahan atau penjelasan sebuah kata atau ungkapan asing.
6.          Disamping hal-hal yang telah diuraikan diatas, perlu kiranya diminta perhatian atas pemakaian koma, titik dan huruf kapital.

f.           Tanda Tanya
Tanda tanya yang biasanya dilambangkan denagn tanda (?), digunakan dalam hal-hal berikut:

1.          Dalam suatu pertanyaan langsung.
2.          Tanda tanya dipergunakan untuk menyatakan keragu-raguan atau ketaktentuan.
3.          Tanda tanya kadang dipergunakan juga untuk untuk menggantikan suatu bentuk sarkatis.

g.          Tanda Seru
Tanda seru, yang dilambangkan dengan (!), biasanya dipakai untuk hal-hal berikut:

1.          Untuk menyatakan suatu pernyataan yang penuh emosi. Kata-kata seru biasanya dimasukkan juga dalam golongan ini.
2.          Tanda seru selalu dipergunakan untuk menyatakan sesuatu perintah.
3.          Tanda seru dipakai untu menyatakan bahwa orang yang mengutip sesuatu sebenarnya tidak setuju atau sependapat dengan apa yang dikutipnya itu.

h.          Tanda Hubung
Tanda hubung yang biasanya dilambangkan dengan tanda (-), biasanya digunakan dalam hal-hal berikut:

1.          Memisahkan suku kata yang terdapat pada akhir baris.
2.          Tanda hubung dipakai untuk menyambung bagian-bagian kata ulang.
3.          Tanda hubung dipakai untuk memperjelas hubungan antara bagian kata atau ungkapan.
4.          Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan: se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; ke- dengan angka; angka dengan –an; dan singkatan huruf apital dengan imbuhan atau kata.

i.        Tanda Pisah
Tanda pisah (dash) yang biasanya dilambangkan dengan (―), biasanya digunakan dalam hal-hal berikut:

1.          Untuk menyatakan suatu pikiran sampingan atau tambahan.
2.          Untuk menghimpun atau memperluas suatu rangkai subjek atau bagian kalimat, sehingga menjadi lebih jelas.
3.          Tanda pisah dipakai diantara dua bilangan berarti sampai dengan, sedangkan bila dipakai antara dua tempat atau kota berarti ke atau sampai.
4.          Tanda pisah dipakai juga untuk menyatakan suatu ringkasan atau suatu gelar.
5.          Untuk menyatakan suatu ujaran yang terputus, atau suatu keragu-raguan.

j.           Tanda Elipsis (Titik-Titik)
Tanda elipsis dilambangkan dengan tiga titik (...) dipakai untuk menyatakan hal-hal berikut:

1.          Untuk menyatakan ujaran yang terputus-putus, atau menyatakan ujaran yang terputus dengan tiba-tiba.
2.          Tanda elipsis dipakai untuk menyatakan bahwa dalam suatu kutipan ada bagian yang dihilangkan.
3.          Tanda elipsis dipergunakan juga untuk meminta kepada pembaca mengisi sendiri kelanjutan dari sebuah kalimat.

k.         Tanda Kurung
Tanda kurung biasanya dilambangkan dengan tanda ( ), biasanya digunakan dalam hal-hal berikut:

1.          Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
2.          Mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan merupakan bagian integral dari poko pembicaraan.
3.          Menagapit angka atau huruf yang memperinci satu seri keterangan.

l.           Tanda Kurung Siku
Tanda kurung siku biasanya dilambangkan dengan tanda [ ], biasanya digunakan dalam hal-hal berikut;

1.          Dipakai untuk menerangkan sesuatu diluar jalannya teks, atau sisipan keterangan (interpolasi) yang tidak ada hubungannya dengan teks.
2.          Mengapit keterangan atau penjelasan bagi suatu kalimat yang sudah ditempatkan dalam tanda kurung.

m.        Garis Miring
Garis miring biasanya dilambangkan dengan tanda (/) dipakai untuk:

1.          Pengganti kata dan, atau, per, atau memisah-misahkan nomor alamat yang mempunyai fungsi yang berbeda.
2.          Penomoran kode surat.

n.         Huruf Kapital
Huruf kapital, biasanya digunaan dalam hal-hal berikut:

1.          Huruf awal dan kata pertama dalam sebuah kalimat. Dapat juga pergunakan pada huruf awal dari kata pertama dalam sebuah baris sajak, walaupun penyair-penyair dewasa ini telah meninggalkan kebiasaan tersebut;
2.          Huruf kapital digunakan pula didepan nama diri, nama tempat, bangsa, negara, oraganisasi, nama bulan dan hari, Tuhan dan sifat-sifat Tuhan yang mempergunakan kata Maha;
3.          Dipergunakan untuk judul-judul buku, pertunjukan, nama haria, majalah, artikel;
4.          Dipergunakan juga pada kata-kata biasa yang mendapat arti istimewa, terutama dalam personifikasi.



BAB II
KALIMAT YANG EFEKTIF


1.       Pendahuluan
Tujuan tulis-menulis adalah untuk menungkapkan fakta-fakta, perasaan, sikap dan isi pikiran secara jelas dan efektif, kepada para pembaca. Aspek-aspek penguasaan bahasa meliputi:

(1)    Penguasaan secara aktif sejumlah besar perbendaharaan kata bahasa tersebut.
(2)    Penguasaan kaidah-kaidah sintaksis bahasa itu secara yang aktif.
(3)      Kemampuan menemukan gaya yang paling cocok untuk menyampaikan gagasan-  gagasan.
(4)   Tingkat penalaran yang dimiliki seseorang.

Kalimat yang efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat-syarat berikut:
(1)    Secara tepat dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis;
(2)      Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau  pembaca seperti yang dipikirkan pembaca atau penulis.

2.          Kesatuan Gagasan
Setiap kalimat yang baik harus jelas memperlihatkan kesatuan gagasan, mengandung satu ide poko. Dalam laju kalimat tidak boleh diadakan perubahan dari suatu kesatuan gagasan kepada kesatuan gagasan lainyang tidak ada hubungan, atau menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali.

3.       Koherensi yang Baik dan Kompak
Yang dimasksud dengan Koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu.

a.       Koherensi rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.
b.       Kepaduan sebuah kalimat akan rusak pula karena salah mempergunakan kata-kata  depan, atau penghubung, dan sebagainya.
c.       Kesalahan lainnya yang dapat merusak koherensi adalah pemakain kata, baik karena merangkainya dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih, atau hakikatnya mengandung kontradiksi.
d.       Suatu corak kesalahan yang lain sering dilakukan sehubungan dengan persoalan koherensi atau kepaduan kalimat adalah salah menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum, dsb) pada kata kerja tanggap.

4.       Penekanan
Inti pikiran yang terkandung dalam tiap kalimat (gagasan utama), haruslah dibedakan dari sebuah kata yang dipentingkan. Dalam bahasa lisan kita dapat emnggunakan tekanan, gerak-gorik dan sebagainya untuk memberi tekanan pada sebuah kata. Dalam bahasa tulisan hal ini tidak mungkin dilakukan.

Namun masih terdapat beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk memberi penekanan itu, baik dalam bahasa lisan maupun bahsa tulisan. Cara-cara tersebut adalah: Mengubah-ubah Posisi dalam Kalimat, Mempergunakan Repetisi, Pertentangan, Partikel penekanan.

5.       Variasi
Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi. Repetisi atau pengulangan sebuah kata untuk memperoleh efek penekanan, lebih banyak menekankan kesamaan bentuk. Variasi dalam kalimat dapat diperoleh dengan beberapa macam cara yaitu:

a.      Variasi Sinonim Kata
Variasi berupa sinonim kata, atau penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada haikatnya tidak mengubah isi dari amanat yang akan disampaikan.

b.      Variasi Panjang-pendeknya Kalimat
Variasi dalam panjang-pendenya struktur kalimatakan mencerminkan dengan jelas pikiran pengarang, serta pilihan yang tepat dari struktur panjangnya sebuah kalimat dapat memberikan tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan.

c.       Variasi Penggunaan Bentuk me- dan di-
Pemakaian bentuk gramatikal yang sam dalam beberapa kalimat berturut-turut juga dapat menimbulkan kelesuan. Sebab itu haruslah dicari variasi pemakaian bentuk gramatikal, terutama dalam mempergunakan bentuk-bentuk kerja yang mengandung prefiks me- dan di-.

d.      Variasi denagn Mengubah Posisi dalam Kalimat
Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat sebenarnya mempunyai sangkut paut juga dengan penekanan dalam kalimat.

6.       Paralelisme
Bila variasi struktur kalimat merupakan suatu alat yang baik untuk menonjolkan gagasan sentral, maka paralelisme juga menempatkan gagasan-gagasan yang sam penting dan sama fungsinya kedalam suatu struktur/konstruksi gramatikal yang sama.

Paralelisme atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal dengan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam konstruksi yang sama.

7.       Penalaran atau Logika
Struktur gramatikal yang baik bukan merupakan tujuan dalam komunikasi, tetapi sekedar merupakan suatu alat untuk merangaikan sebuah pikiran atau maksud dengan sejelas-jelasnya.

Yang dimaksud dengan jalan pikiran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk menghubung-hubungkan evidensi-evidensi menuju kepada suatu kesimpulan yang masuk akal.

 Untuk memberikan suatu uraian tentang hubungan bahasa dan logika, dan untu menjamin agar kalimat-kalimat tidak bertentangan dengan segi penalaran pada umumnya, maka dibawah  ini secara singkat  akan diuraikan beberapa hal dasar tentang proses berpikir logis itu.

a.       Defenisi (Batasan)
Defenisi yang tepat merupakan kunci dari berpikir yang logis, dan dengan demikian juga menjadi cir-ciri manusia yang logis. Beberapa macam defenisi yang dikenal adalah:

(1)    Defenisi berupa Sinonim Kata
Defenisi berupa sinonim kata adalah pembatasan pengertian sebuah kata dengan memberikan sinonim atau kata-kata yang bersamaan artinya dengan kata yang akan dijelaskan.

(2)       Defenisi Berdasarkan Etimologi
Defenisi berdasarkan etimologi (asal-usul kata) adalah suatu variasi lain dari defenisi di atas yang berusaha membatasi pengertian sebuah kata dengan mengikuti jejak etimologi dan arti yang asli hingga arti yang sekarang.

(3)       Defenisi Formal atau Ril (Defenisi Logis)
Logika merupakan dasar bagi semua defenisi yang tepat dan cermat. Defenisi formal (riil atau defenisi logis) adalah suatu cara untuk membatasi pengertian suatu istilah dengan membedakan genusnya dan mengadakan diferensiasinya. Dengan demikian bila kita menyebut kata defenisi, maka yang pertma-tama dimaksudkan adalah pengertian defenisi ini. Defenisi inilah yang bertolak belakang dari prinsip-prinsip nalar.

(4)       Defenisi Luas
Banya kata, terutama kata-kata abstrak seperti: propaganda, demokrasi, kebajikan, agama, kemerdekaan, eadilan, dsb. Sukar sekali dibatasi dengan mempergunakan satu kalimat. Kata-kata tersebut mengkehendaki lebbih banya keterangan daripada apa yang diperlukan oleh defenisi normal.

b.         Generalisasi
Generalisasi adalah suatu pernyataan yang mengatakan bahwa apa yang benar mengenai beberapa hal yang semacam adalah benar atau berlaku pula untuk kebanyakan dari peristiwa atau hal yang sama.




BAB III
ALINEA:
KESATUAN DAN KEPADUAN


1.                      Pengertian Alinea
Alinea bukanlah suatu pembagian secara konvensional dari suatu bab yang terdiri dari kalimat-kalimat, tetapi lebih dalam maknanya dari kesatuan kalimat saja. Sebab itu pembentukan sebuah alinea sekurang-kurangnya mempunyai tujuan:

a.       Memudahan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dan tema yang lain. Oleh sebab itu, setiap alinea hanya boleh mengandung satu tema. Bila terdapat dua tema, maka alinea itu harus dipecahkan menjadi dua alinea.

b.       Memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal, untuk memungkinkan kita berhenti lebih lama daripada perhentian pada akhir kalimat. Dengan perhentian yang lebih lama ini konsentrasi terhadap tema alinea lebih terarah.


2.         Macam-Macam Alinea
a.      Alinea Pembuka
Tiap jenis karangan akan mempunyai alinea yang membuka atau menghantar pokok pikiran dalam bagian karangan itu. Sebab itu sifat-sifat alinea semacam ini harus  menarik minat dan perhatian pembaca. Alinea pertma menunjukkan betapa penguasaan bahasa seseorang.

b.   Alinea Penghubung
Yang dimaksud dengan alinea penghubung adalah semua alinea yang terdapat antara alinea pembuka dan penutup.

c.       Alinea Penutup
Alinea penutup adalah alinea yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan yang mengandung kesimpulan pendapat dari apa yang telah diuraikan dalam alinea-alinea penghubung.


3.         Syarat-Syarat Pembentukan Alinea
Alinea yang baik dan efektif harus memenuhi tigas syarat berikut:
a.       Kesatuan: yang dimaksud dengan kesatuan dalam alinea adalah bahwa suatu kalimat yang membina alinea itu secar abersama-sama menyatakan suatu hal, suatu tema tertentu.
b.       Koherensi: yang dimaksud dengan koherensi aadalah kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk alinea itu.
c.       Perkembangan alinea: perkembangan alinea adalah penyusunan daripada gagasan-gagasan yang membina alinea itu.


4.         Kesatuan Alinea
Fungsi setiap alinea adalah untuk mengembangkan sebuah gagasan tunggal, maka tidak boleh terdapat unsur-unsur yang sama sekali tidak mempunyai pertalian dengan maksud tunggal tadi. Jadi dalam tulisan-tulisan yang baik terdapat empat macam cara untu menempatkan sebuah kalimat topik yaitu:

a.       Pada awal alinea;
b.       Pada akhir alinea;
c.       Pada awl dan akhir alinea;
d.       Pada seluruh alinea.


5.         Koherensi
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah alinea adalah bahwa alinea itu harus mengandung koherensi atau kepaduan yang baik. Untuk memperoleh koherensi antara kalimat-kalimat adalah sebuah alinea, maka harus diperhatikan persyaratan:

a.   Masalah kebahasaan.
b.   Perincian dan urutan isi alinea.





BAB IV
PEREMBANGAN ALINEA



Perkembangan alinea mencakup dua persoalan utama yaitu pertama, kemampuan memperinci secara maksimal gagasan utama alinea kedalam gagasan-gagasan bawahan, dan kedua, kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan bawahan dalam suatu urutan yang teratur. Dibawah ini akan diuraikan beberapa metode pengembangan sesuai dengan dasar pembentuan alinea:


1.          Klimaks dan Anti Klimaks
Perkembangan gagasan dalam sebuah alinea dapat disusun atas dasar klimaks, yaitu suatu gagasan uttama mula-mula diperinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya, berangsur-angsur dengan gagasan-gagasan lain hingga gagasan yang paling tinggi kedudukannya, berangsur-angsur dengan gagasan-gagasan lain hingga ke gagasan yang paling tinggi kedudukannya atau kepentingannya.

Variasi dari klimaks adalah antiklimaks, yaitu penulis mulai dari suatu gagasan atau tema yang paling dianggap paling tinggi kedudukannya, kemudian perlahan-lahan menurun melalui gagasan-gagasan yang lebih rendah hingga yang paling rendah.


2.         Sudut Pandangan
Yang dimaksud sudut pandangan adalah tempat dari mana seorang pengarang melihat sesuatu. Sudut pandangan tidak diartikan sebagai penglihatan atas sesuatu barang dari atas atau dari bawah, tetapi bagaimana kita melihat barang itu dengan mengambil suatu posisi tertentu.


3.         Perbandingan dan Pertentangan
Yang dimaksud dengan perbandingan dan pertentangan adalah suatu cara dimana pengaran menunjukkan kesamaan atau perbedaan antara dua orang, obyek atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu. Kita dapat membandingkan misalnya dua tokoh pendidikan, bagaimana politik pendidikan yang dijalankannya dengan memperhatikan pula segi-segi lain untuk menerangkan gagasan sentral itu.

Perbandingan itu adalah untuk sampai kepada suatu penilaian yang relatif mengenai kedua tokoh tersebut. Segi-segi perbandingan harus disusun sedemikian sehingga kita dapat sampai kepada gagasan sentralnya.

  
4.          Analogi
Analogi merupakan perbandingan yang sistematis dari dua hal yang berbeda, tapi dengan memperlihatkan dengan kesamaan segi atau fungsi dari kedua hal tadi, sekedar sebagai ilustrasi.

Analogi biasanya digunakan untuk membandingkan sesuatu yang tidak atau kurang dikenal dengan sesuatu yang tidak atau kurang dikenal dengan sesuatu yang dikenal dengan baik oleh umum, untuk menjelaskan hal yang kurang dikenal umum.


5.         Contoh
Sebuah gagsan yang terlalu umum sifatnya, atau generalisasi-generalisasi memerlukan ilustrasi-ilustrasi yang konkret sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Harus diingat bahwa sebuah contoh sama sekali tidak berfungsi untuk membuktikan pendapat seseorang, tetapi dipakai sekedar untuk menjelaskan maksud penulis.


6.         Proses
Sebuah dasar lain yang dapat juga dipergunakan untuk menjaga agar perkembangan sebuah alineadapat disusun secara teratur adalah proses. Proses merupakan suatu urutan dari tindakan-tindakan untu menciptakan hasil urutan dari sesuatu peristiwa.


7.         Sebab-Akibat
Perkembangan sebuah alinea dapat pula dinyatakan dengan mempergunakan sebab-akibat sebagai dasar, Dalam hal ini sebab bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat bertindak sebagai perincian pengembangannya.


8.         Umum-Khusus
Kedua cara ini, yaitu umum-khusus dan khusus-umum, merupakan cara yang paling umum untuk mengembangkan gagasan-gagasan dalam sebuah alinea secara teratur. Dalam hal yang pertama gagasan utamanya ditempatkan pada awal alinea, serta pengkhususan atau perincian-perinciannya terdapat dalam kalimat-kalimat berikutnya.


9.         Klasifikasi
Yang dimaksud dengan klasifikasi adalah sebuah proses untuk mengelompokkan barang-brang yang dianggap mempunyai kesamaan-kesamaan tertentu. Persamaannya dengan pertentangan dan perbandingan adalah bahwa kedua nya bertolak dari penetapan ciri-ciri yang sama dan penetapan perbedaan-perbedaan tertentu, tetapi dalam klasifikasi prosesnya masih berjalan terus untuk menentukan pengelompokan.


10.       Defenisi Luas
Yang dimaksud dengan defenisi dalam pembentukan sebuah alinea adalah usaha pengarang untuk memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal.


11.      Perkembangan dan Kepaduan Antaralinea
Semua yang telah diuraikan diatas bertolak dari alinea sebagai sebuah unit. Kesatuan-kesatuan yang kita sebut alinea ini tidak berdiri sendiri tetapi merupakan suatu unsur yang kecil dalam sebuah unit yang lebih besar, entah berupa bab maupun unit yang berupa sebuah karangan yang lengkap.




BAB V
TEMA KARANGAN


1.         Pengertian Tema
Menurut arti katanya tema berarti “sesuatu yang telah diuraikan atau ditempatkan”. Kata ini berasal dara ata Yunani thitenai yang berarti ‘menempatkan atau meletakkan. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya.


2.         Pemilihan Topik
Masalah utama yang dihadapi seorang penulis untuk merumuskan tema sebuah karangan adalah topik atau pokok pembicaraan. Topik adalah permasalahan utama penulis untu menetukan sebuah tema. Penetapan topik sebelum menggarap suatu tema merupakan suatu keahlian.


3.         Pembatasan Topik
Pengalaman-pengalaman menunjukkan bahwa pada saat pertama kali seorang penulis pertama kali mulai menulis, ia selalu dihadapkan kepada persoalan: apa yang akan ditulis? Berapa panjang atau berapa besar tulisannya? Mungkin penulis sudah tahu apa yang akan ditulisnya, tetapi pengetahuan tentang topik itu saja dalam mencukupi.


4.         Menentukan Maksud
Dengan membatasi topik pembicaraan, maka perhatian penulis juga lebih berpusat sehingga ia tetap bergulat dengan persoalan yang akan ditulisnya itu. Pembatasan topik belum dengan sendirinya membatasi pula pengarang atu penulis.


5.          Tesis dan Pengungkapan Maksud
Untuk keperluan penyusunan sebuah kerangka karangan, diperlukan perumusan tema yang berbentuk kalimat. Perumusan singkat yang mengandung tema dasar dari sebuah karangan disebut tesis. Perumusan yang singkat ini yang tidak menekankan tema dasarnya disebut pengungkapan maksud. Tesis biasanya berbentu satu kalimat, entah kalimat tunggal ataupun majemuk bertingkat, tesis tidak boleh berbentuk kalimat majemuk setara. Dengan demiian ada dua gagasan sentral.


6.         Tema yang Baik
Sebuah tema hanya akan dinilai setinggi-tingginya apbila sudah dikerjakan dengan baik, jujur, segar, terperinci dan jelas, sehingga dapat menambah informasi yang berharga bagi perbendaharaan pengetahuan pembac. Tema yang dikembangkan dengan memenuhi hal-hal tersebut dapat disebut sebagai tema yang baik. Syarat yang lainnya yang dibutuhkan untuk menyusun tema yang baik adalah sebagai berikut: Kejelasan, Kesatuan, Perkembangan, Keaslian, Judul yang Cocok.




BAB VI
KERANGKA KARANGAN


1.         Pengertian Kerangka Karangan
Kerangka karangan adalah suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari sutu karangan yang akan digarap.


2.          Manfaat Kerangka Karangan
Kerangka karangan dapat membantu penulis dalam hal-hal berikut: Untuk menyusun karangan secara taratur, Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda, Menghindari penggarapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih, Memudahkan penulis untuk mencari materi pembantu.


3.          Penyusunan Kerangka Karangan
Suatu kerangka karangan yang baik tidak sekali dibuat. Langkah-langkah sebagai tuntunan yang harus diikuti adalah sebagai berikut:

a.          Rumuskan tema yang jelas berdasaran suatu topik dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi.
b.          Langkah yang kedua adalah mengadaan inventarisasi topik-topik bawahan yang dianggap merupakan perincian dari tesis atau pengungkapan maksud tadi.
c.          Langkah yang ketiga adalah penulis berusaha mengadakan evaluasi semua topik yang telah tercatat pada langkah kedua diatas.
d.          Untuk mendapatkan kerangka karangan yang terperinci maka langkah edua dan ketiga hrus dilakukan berulang-ulang untuk menyusun topik-topik yang lebih rendah tingkatannya.
e.          Sesudah semuanya siap masih harus dilakukan langkah yang terakhir, yaitu menentukan sebuah pola susunan yang paling cocok untuk mengurutkan semua perincian dari tesis yang diperoleh melalui langkah sebelumnya.


4.         Pola Susunan Kerangka Karangan
Untuk memperoleh suatu susunan kerangka yang teratur, digunakan beberapa cara atau tipe susunan. Pola susunan yang paling utama adalah pola alamiah dan logis. Pola alamiah berdasarkan urutan kejadian,tempat, waktu, dan ruang. Sedangkan pola logis berdasarkan kejadian yang nyata.


5.          Macam-Macam Kerangka Karangan
                 5.1    Berdasaran Perincian
    Berdasarkan perincian yang dilakukan pada suatu kerangka karangan, maka dapat dibedakan kerangka karangan sementara (non-formal) dan kerangka formal.

               5.2     Berdasarkan Perumusan Teksnya
       Sesuai dengan cara merumuskan teks dalam tiap unit dalam sebuah karangan, maka dapat dibedakan kerangka karangan atas kerangka        karangan kalimat dan kerangka karangan topik.


6.         Penerapan Penyusunan
Untuk menerapkan penyusunan kerangka karangan dengan mempergunakan semua persyaratan sebagai telah dikemuakan sebelumnya.


7.         Syarat-Syarat Kerangka yang Baik
Kerangka-kerangka yang baik harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut: Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas, Tiap unit dalam kerangka karangan hanya mengandung satu gagasan, Pokok-pokok  dalam kerangka karangan harus disusun secara logis, Harus mempergunakan pasangan simbol yang konsisten.





BAB VII
PENGUMPULAN DATA DAN KUTIPAN
A.    PENGUMPULAN DATA


1.          Teknik Pengumpulan Data
Ada bermacam-macam cara untuk mengumpulkan data, informasi, serts menguji data dan informasi tersebut. Cara-cara tersebut adalah mengadakan wawancara, mengadakan angket, mengadakan observasi, dan penelitian lapangan atau mengadakan penelitian kepustakaan.


2.         Wawancara dan Angket
Wawancara atau interview adalah suatu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada seorang informan atau seorang autoritas (seorang ahli atau berwewenang dalam suatu masalah).


3.          Observasi dan Penelitian Lapangan
Observasi adalah pengamatan langsung pada suatu obyek yang akan diteliti. Sedangkan penelitian lapangan adalah usaha pengumpulan data dan informasi secara intensif disertai analisa dan pengujian kembali atas semua yang telah dikumpulkan.


4.         Penelitian Pendapat
Melalui pengamatan penulis sebenarnya sudah dapat mengambil suatu kesimpulan. Namun proses pengamatan itu dapat terjadi berulang-ulang, sehingga dapat timbul berbagai macam-macam pendapat dengan jumlah pengamatan atas peristiwa yang sama, tetapi masing-masingnya mempunyai ciri-ciri yang khusus.


5.          Penelitian Kepustakaan
Salah satu corak karya tulis yang penting adalah tulisan yang disusun berdasarkan suatu riset. Umat manusia dari zaman ke zaman selalu ingin mengetahui hal yang baru. Suatu jalan untuk hal ini adalah dengan cara mengadakan penelitian kepustakaan.


6.       Mekanisme Perpustakaan
Sudah disinggung diatas bahwa sejak bertahun-tahun manusia menyimpan  semua pengetahuan dan hasil kebijaksanaannya dalam perpustakaan-perpustakaan. Untuk mengumpulkan bahan-bahan mentah yang ada di perpustakaan itu manusia tidak perlu membaca semua buku yang tersedia. Mekanisme standar yang digunakan pada semua perpustakaan untuk membantu setiap orang guna mencari bahan yang diperlukan adalah kartu-kartu katalog, referensi standar, indeks, dan lain-lain.


7.         Pencatatan Data
Melalui buku-buku majalah yang telah diuraikan diatas, penulis dihadapkan pada langkah berikutnya adalah mencatat bahan-bahan yang dianggapnya sangat penting bagi penyusunan karangannya, tahap pertama dengan membaca secara intensif.



B.KUTIPAN

1.         Tujuan Membuat Kutipan
Dalam penulisan karya ilmiah―baik penulisan artikel ilmiah, karya-karya tulis, maupun skripsi dan disertai―seringkali dipergunakan kutipan-kutipan untuk menegaskan isi uraianatau untuk membuktikan apa yang dikatakan. Kutipan adalah pinjaman kalimat seorang pengarang, atau ucapan seseorang yang terkenal baik terdapat dalam buku atau sumber lainnya.


2.         Jenis Kutipan
Menurut jenisnya, kutipan dapat dibedakan atas kutipan langsung dan tak langsung. Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat dengam mengambil secara lengkap kata demi kata sesuai dengan teks asli, sebaliknya kutipan tak langsung adalah pinjaman pendapat seseorang yang diambil hanya berupa intisari dari ikhtisar pendapatnya saja.


3.         Prinsip-Prinsip Mengutip
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam membuat utipan adalah: Jangan mengadakan perubahan, Bila ada kesalahan, Menghilangkan bagian kutipan.


4.         Cara-Cara Mengutip
Agar tiap-tiap jenis kutipan dapat dipahami dengan  jelas perhatikanlah cara-cara berikut: Kutipan langsung yang tak lebih dari empat baris, Kutipan langsung yanglebih dari empat baris, Kutipan tak langsung, Kutipan pada catatan kaki, Kutipan atas ucapan lisan, Variasi membuat kutipan.


5.         Tanggung Jawab Penulis
Sebuah kutipan hendaknya dibuat dengan penuh tanggung jawab. Dalam hubungan persoalan tanggung jawab ini harus diingat bahwa kutipan itu dapat dibuat sekurang-kurangnya untuk dua tujuan yang berlaianan; pertama, kutipan dibuat untuk mengadakan sorotan, analisa, kritik, dan kedua, kutipan dibuat untuk memperkuat sebuah uraian.





BAB VIII
CATATAN KAKI DAN BIBLIOGRAFI
A.    CATATAN KAKI


1.         Pengertian Catatan Kaki
Yang dimaksud dengan catatan kaki adalah keterangan-keterangan atas teks karangan yang ditempatkan pada halaman karangan yang bersangkutan. Bila keterangan semcam ini diletakkan pada akhir bab, maka catatan itu disebut saja keterangan.


2.         Tujuan Catatan Kaki
Lepas dari persoalan hubungan antara kutipan dan catatan yang dinyatakan secara formal dengan tanda-tanda itu, kita akan bertanya, apa sebenarnya tujuan sebuah catatan kaki? Tujuan catatan kaki tentu tidak lepas dengan isi teks yang akan diberi penjelasan itu. Pada dasarnya catatan kaki dibuat berdasarkan maksud-maksud berikut:

a.       Untuk menyusun pembuktian;
b.       Menyatakan utang budi;
c.       Menyampaikan keterangan tambahan;
d.       Meruju bagian lain dari teks.


3.         Prinsip Membuat Catatan Kaki
Untuk membuat sebuah catatan kaki, maka perlu diperhatikan bebrapa prinsip berikut: Hubungan catatan kai dan teks, Nomor urut pertunjukan, Teknik pembuatan catatan kaki.


4.         Jenis Catatan Kaki
Sejalan dengan tujuan catatan kaki sebagai telah dikemukakan diatas, maka dapatlah dikemukakan sekali lagi bahwa jenis catatan kaki ada tiga macam yaitu: Pertunjukan sumber (referensi), Catatan penjelas, Gabungan sumber dan penjelas.


5.         Unsur-Unsur Referensi
Sebelum mengikuti secara terperinci membuat catatn kaki bagi tiap jenis kepustakaan, hendaknya diketahui dulu ikhtisar-ikhtisar  unsur-unsur referensi dibawah ini: Pengarang, Judul, Data publikasi, Jilid dan nomor halaman.


6.         Cara Membuat Catatan Kaki
Cara membuat catatan kaki adlah sebagai berikut:Referensi epada buku dengan seorang pengarang, Refrensi epada buku dengan dua atau tiga pengarang, Referensi kepada buu dengan banyak pengarang, Kalau edisi berikutnya mengalami perubahan, Buku yang terdiri dari dua jilid atau lebih, Sebuah edisi dari karya seorang pengarang atau lebih, Sebuah terjemahan, Artikel dalam sebuah analogi, Artikel dalam ensiklopedia, Referensi pada artikel majalah, Referensi pada artikel harian, Tesis dan disertai yang belum diterbitkan, Referensi kepada dua sumber atau lebih, Referensi dari sumber kedua, Catatan penjelas, Referensi dan catatan penjelas.


7.         Singkatan-Singakatan
Dalam catatan kaki dilakukan singkatan-singkatan olae para sarjana yang telah mengetahui maksudnya. Oleh sebab itu, hendaklah diperhatikan benar-benar bagaimana mempergunakan singkatan-singkatan dalam setiap catatan kaki.


8.         Penerapan Catatan Kaki dan Singkatan
Bagaimana cara menggunakan singkatan-singkatan diatas terutama singkatan-singkatan ibid., op.cit., dan loc.cit. dalam kenyataan? Semua catatan kaki tersebar pada halaman-halaman yang berlainan, namun semuanya termasuk dalam kesatuan nomor urut dalam satu bab.



B.    BIBLIOGRAFI

1.          Pengertian Bibliografi
Yang dimaksud dengan bibliografi atau daftar kepustakaan adalah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbit lainnya, yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan yang tengah digarap.


2.         Fungsi Bibliografi
Fungsi sebuah bibliografi hendaknya secara tegas dibedakan dari sebuah fungsi catatan kaki. Sumber dari catatan kai dipergunakan untuk menunjukkan kepada sunmber dari penyataan yang dipergunakan dalam teks. Bibliografi dapat dilihat dari segi lain, yaitu berfungsi sebagai pelengkap dari sebuah catatan kaki.


3.          Unsur-Unsur Bibliografi
Pokok yang paling penting dimasukkan kedalam unsur-unsur bibliografi:

a.          Nama pengarang, yang dikutip secara lengkap;
b.          Judul buku, temasuk judul tambahan;
c.          Data publikasi, penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan keberapa, nomor jilid, dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut;
d.          Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, jilid, nomor dan tahun.


4.          Bentuk Bibliografi
Karena cara-cara untuk tiap jenis kepustakaan agak berlainan maka perhatikanlah ketentuan-ketentuan bagaimana menyusun urutan pengarang. Judul dan data publikasi dari tiap jenis kepustakaan: Dengan seorang pengarang, Bua dengan dua atau tiga orang pengarang, Buku dengan banyak pengarang, Kalau edisi berikutnya mengalami perubahan, Buku yang terdiri dari dua jilid atau lebih, Sebuah edisi dari karya seorang pengarang atau lebih, Sebuah kumpulan bunga analogi, Sebuah buku terjemahan, Artikel dalam sebuah himpunan, Artikel dalam sebuah ensiklopedi, Artikel majalah, Artikel atau bahan dari harian, Tesis dan disertai yang belum diterbitkan.


5.          Macam-Macam Bibliografi
Bahan-bahan referensi itu dapat dibedakan dengan membuat daftar khusus kalau memang cukup panjang daftarnya, misalnya:

a.           Buku-buku dasar: buku yang dipergunakan sebagai bahan orientasi umum mengenai pokok yang digarap itu. Dalam hal ini mungkin tidak ada satu bahan pun yang dikutip daripadanya.
b.           Buku-buku khusus: buku-buku khusus yaitu buku-buku yang dipakai oleh penulis untuk mencari bahan-bahan yang langsung bertalian dengan pokok persoalannya yang digarap.
c.           Buku-buku pelengkap: buku-buku pelengkap adalah buku-buku yang topiknya lain dari pokok yang digarap penulis. Namun dalam beberapa hal buku-buku itu bisa memberi jalan keluar atau penerangan yang lebih mendalalm mengenai salah satu bagian dari karya itu.


6.          Penyusunan Bibliografi
Untuk menyusun sebuah daftar yang final perlu diperhatikan terlebih dahulu hal-hal berikut:

a.          Nama pengarang menurut urutan alfabet.
b.          Bila tidak ada nama pengarang judul buku yang disusun menurut alfabet.
c.          Untuk seorang pengarang harus mempunyai lebih dari satu buku sumber, maka untuk referensi kedua atau selanjutnya tidak perlu dituliskan nama pengarang tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 sampai dengan 7 ketikan.
d.          Jaraka antara baris dengan baris suatu referensi adalah satu spasi. Tetapi jarak antara pokok dengan pokok yang lain adalah dua spasi.
e.          Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan sterusnya dimasukkan kedalam sebanyak 3 atau 4 ketikan.





BAB IX
KONVENSI NASKAH


1.          Pendahuluan
Pengembangan tema sebuah karangan tergantung dari erangka karangan yang telah digarap sebelumnya, beserta perincian yang dilakukan kemudian. Perincian dalam kerangka karangan dapat diarahkan kepada pembentukan bab-bab dan anak bab, sedangkan peincian yang dilakukan kemudian diarahkan kepada penetapan pokok-pokok utama dan pokok-pokok bawahan yang akan menjadi inti atau gagasan utama alinea-alinea.


2.          Bagian Pelengkap
Bagian pelengkap pendahuluan atau disebut juga sebagai halaman-halaman pendahuluan sama sekali tidak menyangkut isi karangan. Bagian pelengkap karnagan biasanya terdiri dari: judul pendahuluan, halaman pengesahan, halaman judul, halaman persembahan, kata pengantara, daftar isi, daftar dan gambar tabel, dan halaman penjelas kalau ada. Bila karangan ituakan diterbitkan sebagai buku maka bagian-bagian yang perlu sebagai persyaratan formalnya adlah judul pendahuluan dan halaman belakang judul pendahuluan, halaman judul dan halaman belakang halaman pendahuluan, halaman persembahan dan halaman belakang halaman persembahan kalau ada, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar atau tabel, serta halaman penjelasan atau keterangan jika ada.


3.          Bagian Isi Karangan
Bagian isi karangan sebenarnya merupaan inti dari karangan secara singkat dapat dikatakan karnagan itu sendiri. Bagian isi karangan biasanya terdiri dari tiga bagian yaitu: pendahuluan, tubuh karangan, dan kesimpulan.


4.         Bagian Pelengkap Penutup
Bagian pelengkap penutup juga merupakan syarat-syarat formal suatu karangan ilmiah. Ada beberapa bagian yang biasa dimasukkan pada bagian pelengkap penutup seperti: apendiks (appendix atau lampiran), bibliografi dan daftar indeks.


5.          Konvensi Naskah Lainnya
Sebuah karya ilmiah yang memerlukan persyarata teknis antara lain pengetikan rapi, perwajahan yang menarik dan ada beberapa persyaratan yang lainnya seperti:

a.          Ukuran Kertas
      Biasanya untuk karya ilmiah di Perguruan Tinggi biasanya ditetapkan ukuran kertas tertentu, yaitu kertas HVS putih, berukuran 8,5 * 11 inci (atau kira-kira 21,5 * 28 cm) atau disebut juga dengan kertas ukuran kuarto.

b.          Mesin Tulis
               Untuk karya-karya ilmiah yang formal, biasanya diminta untuk mempergunakan mesin tulis berhuruf besar atau disebut juga pika (dalam satu inci bisa diketik 10 huruf). Untuk tabel-tabel atau keperluan khusus dapat dipergunakan mesin huruf kecil atau disebut elite (dalam satu inci dapat diketik 12 huruf).

c.            Pita dan Karbon
                           Untuk memperoleh sebuah naskah yang baik, jelas dan rapi maka selain dari persoalan kertas, penulis harus memperhatikan pula pita dan kertas karbon.

d.           Margin
                           Sebuah naskah tidak boleh diketik dari ujung kertas sebelah kiri hingga pinggir kanan, sehingga tidak ada bagian yang kosong pada sisi kiri atau kanannya. Harus disediakan bagian yang kosong pada semua sisinya. Bagian yang kosong pada semua sisi kertas disebut dengan margin atau batas pinggiran.

e.          Pemisahan suku kata
                           Tiap bahasa mempunyai ketentuan tersendiri bagaimana memisahkan suku-suku katanya. Persoalan pemisahan suku kata itu menjadi persoalan yang penting dalam hubungan dengan margin kanan.

f.           Spasi
         Ketikan itu tidak boleh dilakukan berjejal-jejal sehingga sulit dibaca. Sebab itu jarak antara baris dengan baris cukup lebar. Jarak antara baris dengan baris mana pun antara huruf dengan huruf disebut dengan spasi.

g.           Nomor halaman
                           Semua halamn diberi nomor urut dengan mempergunakan angka-angka Arab dibagian tengah halaman sebelah atas, atau disudut atas, kira-kira 2,5 cm dari pinggir atas.

h.           Judul
          Judul bab selalu ditempatkan dibagian tengah atas, dalam huruf kapital, antara  judul bab dan teks diberi jarak 4 spasi. Judul bab sama sekali tidak boleh ditempatkan dalam tanda kutip atau digarisbawahi, dan tidak boleh diberi titik.

i.                 Huruf miring
                           Huruf miring dalam buku-buku biasanya dinyatakan dengan sebuah garis bawah pada kata atau kalimat yang bersangkutan dalam sebuah naskah yang diketik.

j.            Penulisan angka
                           Sebuah karya yang penuh berisi angka-angka akan sangat mengganggu. Kecuali angka-angka yang dipakai untuk maksud-maksud khusus seperti: tabel-tabel, dan statistik, maka sejauh mungkin menghindari angka yang terlalu banyak.


6.          Tanda-Tanda Koreksi
Tanda-tanda koresi digunakan untuk mengoreksi hal-hal yang berhubungan dalam proses pengerjaan karya tulis atau karangan.





BAB X
REPRODUKSI
A.    RINGKASAN DAN IKHTISAR


1.          Pengertian Ringkasan dan Ikhtisar
Ringkasan (Precis) adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karnagn yang panjang dalam bentuk yang singkat, karena suatu ringkasan bertolak dari suatu penyajian yang asli, maka ia merupakan suatu keterampilan untuk mengadakan reproduksi hasil-hasil karya yang sudah ada.


2.          Tujuan Membuat Ringkasan
Tujuan ringkasan adalah untuk mengetahui isi buku, maka latiahan-latihan maksudnya membimbing seseorang agar dapat membaca karangan yang asli dengan cermat dan bagaimana harus menulisnya dengan tepat.


3.          Cara Membuat Ringkasan
Membuat ringkasan yang baik dan teratur, adalah sebagai berikut:

a.          Membaca naskah asli: penulis ringkasan harus membaca naskah asli seluruhnya beberapa kali untuk mengetahui kesan umum dan maksud pengarang, serta sudut pandangannya.
b.          Mencatat gagasan utama: semua gagasan utama atau gagasan yang penting dicatat atau digarisbawahi
c.          Membuat reproduksi: sebagai langkah ketiga penulis ringkasan menyusun kembali suatu karangan singkat (ringkasan) berdasarkan gagasan-gagasan utama sebagaimana yang dicatat dalam langkah yang kedua.
d.          Ketentuan tambahan: disamping ketiga langkah diatas masih ada beberapa ketentuan tambahanyang perlu diperhatikan pada waktu menyusun ringkasan (langkah ketiga).


4.          Penerapan Ringkasan
Untuk menerapkan prosedur penerapan ringkasan gunanya untuk menerapkan metode-metode yang ada untuk membuat suatu ringkasan.




B.    RESENSI


1.          Pengertian Resensi
Suatu jenis tulisan lain yang mempunyai titik singgung dengan ringkasan dan ikhtisar adalah resensi. Resensi adalah suatu tulisan mengenai nilai sebuah karya. Tujuannya adalah menyampaian kepada para pembaca apakah sebuah hasil karya tulis itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.


2.          Dasar Resensi
Untuk memberikan pertimbangan secara obyektif sebuah hasil karya tulis. Penulis harus memperhatikan dua faktor: pertama penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan dari pengarang yang asli, dan kedua ia harus menyadari sepenuhnya apa maksud nya membuat resensi.


3.          Sasaran-Sasaran Resensi
Pokok-pokok yang dapat dijadikan sasaran penilaian sebuah karya adalah:
a.    Latar belakang;
b.    Macam atau jenis buku;
c.    Keunggulan buku.


4.          Nilai Buku
Dengan memberikan gambaran mengenai latar belakang dan mengemukan pokok-pokok yang menjadi sasaran penilaian, penulis resensi sebenarnya telah memberikan pendapatnya mengenai nilai buku itu.


5.          Penerapan
Dengan tidak mengabaikan kemungkinan variasi membuat resensi atas sebuah buku atau hasil karya seni lainnya.




BAB XI
LAPORAN DAN USUL
A.    LAPORAN


1.          Pengertian Laporan
Seseorang yang ditugaskan untuk meneliti suatu pokok persoaln tertentu, harus menyampaian suatu laporan mengenai hal yang ditugaskan kepadanya itu.


2.          Dasar-Dasar Laporan
Sebuah laporan bertolak dari beberapa dasar, yaitu orang yang memberikan laporan, pihak yang menerima laporan, dan sifat dan tujuan umum laporan.


3.          Sifat Laporan
Seperti halnya dengan semua jenis tulisan yang lain, sebuah laporan akan dianggap baik atau buruk tergantung dari eberhasilannya dalam memenuhi fungsinya yaitu mempengaruhi pembaca seperti yang diharapkan.


4.          Macam-Macam Laporan
Laporan-laporan umum (untuk perusahaan dsb.) dapat dibagi-bagi sesuai dengan maksud dan bentuknya, berdasarkan berikut: Laporan berbentuk formulir isian,  Laporan berbentu surat,  Laporan berbentuk memorandun,  Laporan perkembangan dan laporan keadaan,  Laporan berkala,  Laporan laboratis, Laporan formal dan semiformal.


5.          Struktur Laporan Formal
Seperti halnya dengan tulisan-tulisan umumnya laporan harus disampaikan dalam bentuk struktur yang baik. Pendahuluan dan isi laporan hanya mempunyai fungsi umum yaitu sebagai bahan ilustrasi atau bahan penjelasan.


6.          Bahasa Sebuah Laporan
Bahasa yang digunaan haruslah bahasa yang baik, jelas dan teratur. Yang dimaksud dengan bahasa yang baik tidak berarti laporan itu harus menggunakan gaya bahasa yang penuh hiasan.


7.          Laporan Buku
Suatu macam laporan untuk kepentingan pendidikan atau perkuliahan di Perguruan Tinggi adalah apa yang dinamakan laporan buku.


8.          Penutup
Mahasiswa, pelajar, karyawan atau siapa saja yang dapat melakukan apa saja yang telah diuraikan diatas. Observasi yang diadakan baik secara perseorangan maupun secara berkelompok akan bermanfaat bila disudahi dengan sebuah laporan.



B.    USUL


1.          Pengertian Usul
Yang dimaksud dengan usul atau proposal adalah  suatu saran atau permintaan  kepada seseorang atau suatu badan untuk mengerjakan atau melakukan suatu pekerjaan.


2.          Sifat dan Jenis Usul
Bila semua tulisan lain dibuat berdasarkan bahan-bahan yang sudah tersedia atau sesuatu yang sudah terjadi, sebaliknya usul dibuat berdasarkan sesuatu yang belum ada.


3.          Usul Nonformal
Dari seorang mahasiswa belum diharapkan untuk menuliskan usul yang formal, namun sudah dapat dibiasakan untuk menuliskan usul-usul yang bersifat nonformal. Terlepas dari bentuk mana yang akan dipergunakan, sebuah usul-usul nonformal harus mengandung hal-hal sebagai berikut: Masalah,  Saran pemecahan,  Permohonan.


4.          Usul Formal
Seperti halnya dengan semua tulisan formal yang lain, usul formal harus memenuhi persyaratan tertentu sekurang-kurangnya ada tiga bagian utama yaitu bagian pelengkap, pendahuluan isi usul, dan bagian pelengkap penutup.





BAB XII
PENYAJIAN LISAN


1.          Peranan Pidato
Peranan pidato penyajian penjelasan lisan kepada suatu kelompok massa. Dahulu kala Indonesia mempunyai seorang yang sangatlah hebat dalam hal pidato atau biasa kita panggil bapak proklamator yaitu Ir.soekarno bangsa Indonesia seakan terhipnotis bila mereka semua mendengarkan bapak proklamator itu, badan dan tubuh pun seakan akan ingin bangkit dan akhirnya pun bangsa Indonesia ini bisa bangkit dari para penjajah.

Seorang tokoh dalam masyarakat, seorang pemimpin, lebih-lebih lagi seorang sarjana atau ahli harus memiliki pula keahlian untuk menyajikan pikiran dan gagasannya secara oral. Seorang tokoh atau pemimpin yang tidak bisa berbicara di depan umum akan menjauhkan dirinya sendiri dari masyarakat yang di pimpinnya ia tidak sanggup mengadakan komunikasi langsung dengan anggota-anggota masyarakatnya.


2.          Metode Penyajian Oral
Berhubung dengan penyajian lisan ini, dikenal empat macam metode penyajian lisan yaitu:

a.        Metode impromptu (serta-merta): metode impromptu adalah metode penyajian berdasarkan kebutuhan sesaat.
b.         Metode menghafal: metode ini merupakan lawan dari metode pertama diatas.
c.        Metode naskah: metode ini jarang dipakai, kecuali dalam pidato resmi atau pidato-pidato radio.
d.        Metode ekstemporan (tanpa persiapan naskah): metode ini sangat dianjurkan karena merupakan jalan tengah.


3.          Persiapan Penyajian Lisan
Persiapan-persiapan untuk penyajian lisan, dapat dilihat melalui langkah berikut:
A.     Meneliti masalah: menentuan maksud, menganalisa pendengar dan situasi, memilih dan menyempitkan topik.
B.      Menyusun uraian: mngumpulkan bahan, membuat kerangka uraian, menguraikan secara mendetail.
C.      Mengadakan latihan: melatih dengan suara nyaring.


4.          Menentukan Maksud dan Topik
Setiap tulisan selalu menentukan topik tertentu yang ingin disampaikan kepada para hadirin, dan mengharapkan suatu reaksi tertentu dari para pembaca atau pendengar. Reaksi itu akan lebih jelas kalu diketahui pula bahwa ada maksud tertentu yang ingin dicapai oleh pembicara atau pengarang.


5.          Menganalisa Situasi dan Pendengar
a.       Menganalisa situasi.
b.       Menganalisa pendengar.


6.          Penyesuaian Diri
Bagaimanapun setiap pembicara aan merasa kekhawatiran sebelum menyampaikan uraiannya. Beberapa macam penyesuain yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

a.      Penyesuaian terhadap sikap bermusuhan
b.      Penyesuaian terhadap sikap angkuh
c.      Penyesuaian terhadap beberapa sikap umum.


7.        Penyusunan Bahan
a.           Teknik penyusunan bahan
  Seperti sudah dikemukakan diatas, penyusunan bahan-bahan ini melalui tiga tahap yaitu mengumpulkan bahan, membuat kerangka karangan, dan menguraikan secara mendetail.

b.              Menyiapan catatan
 Sesuai dengan metode-metode penyajian lisan seperti sudah dikemukakan diatas, maka metode ekstemporan merupakan metode yang jauh lebih efektif dari semua metode lain.


8.        Penyajian Lisan
Penyajian lisan Merupakan puncak dari seluruh persiapan yang dilakukan melalui ketujuh langkah diatas, khususnya latihan oral. Latihan oral ini dianggap begitu penting sehingga pada zaman klasik Yunani latin, para orator biasanya mengadakan latihan intensif sebelum menyampaikan pidatonya didepan suatu massa.

1.   Penyajian pada kelompok kecil
a.     Gerak-gerik;
b.     Teknik bicara;
c.     Transisi;
d.     Alat peraga.

2.   Penyajian pada kelompok besar
a.     Pembukaan;
b.     Kecepatan bicara;
c.     Artikulasi.


9.          Cara Menganalisa
Sebagai penutup dari uraian mengenai presentasi lisan dari sebuah komposisi, akan diberikan sebuah contoh untuh mengkonkretkan teknik untuk menganalisa pendengar dan situasi sehingga pembicara dapat menyusun bahan-bahannya lebih terarah.


10.                       Perbandingan Buku
Perbandingan buku Komposisi dengan buku bahasa indonesia Karya Hasnah Faizah. Mengenai fungsi bahasa pada buku Bahasa Indonesia karya Hasnah Faizah lebih dijelaskan misalnya fungsi deskriptif, fungsi ekspresif dan fungsi sosial bahasa. Sedangkan di buku Komposisi hanya fungsi dalam garis besarnya saja contohnya: untuk menyatakan ekspresi diri sebagai alat komunikasi dll.

Mengenai alinea dan paragraf buku komposisi lebih menjelaskan mengenai macam-macam alinea, syarat pembentukan alinea, kesatuan alinea, dan model-model alinea. Sedangkan dibuku Bahasa Indonesia karya Hasnah Faizah hanya dijelaskan mengenai pengertian, struktur, dan syarat alinea.




DAFTAR PUSTAKA

Ali Lukman, ed. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Tjermin Manusia  Indonesia Baru (BKI). Jakarta: Gunung Agung, 1967.
Alisyahbana, S. Takdir. Dari Perdjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (PBI). Djakarta: P.T. Pustaka Rakyat, 1957.
Basis. Majalah Bulanan, Yogyakarta.
Campbell, William Giles. Form and Style in Thesis Writing. Boston: Houghton Miffin Company, 1967.
Intisari. Majalah Bulanan, Jakarta.
Keraf, Gorys. Tatabahasa Indonesia, Ende: Nusa Indah, 1977.
Knight, T.W. A New Comprehensive English Course. London: University of London Press, Ltd., 1958.
Kompas. Harian untuk Umum, Jakarta.
Kridalaksana, Harimurti dan Djoko Kentjono, ed. Seminar Bahasa Indonesia 1968. Ende-Flores: Nusa Indah, 1971.
Legget, Glenn, C. David Mead, dan William Charvat. Prentice-Hall Handbook for Writers. Fourth ed. Englewood Cliffs: Prentice-Hall, inc., 1966.
Levin, Gerald. A. Brief Handbook of Rhetoric. New York: Harcourt, Brace & World Inc., 1966.
McCrimmon, James M. Writing with a Purpose. Boston: Houghton Miffin Company, 1967.
Monroe, Alan H. Principles and Types of Speech. Fourt ed. Chicago: Scott, Foreman and Company, 1955.
Moore, Robert Hamiton. Effective Writing. Second ed. New York: Holt, Rinehart and Winston, 1964.
Muljana, Slamat, Dr. Kaidah Bahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah, 1969.
Oliver, Robert T., dan Ruoert L. Cortright. Ne Training for Effective Speech. Rev. ed. New York: Henry Holt and Company, 1958.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Agustus, 1975.
Sherman, Theodore A., dan Simon S. Johnson. Modern Technical Writing. Englewood cliff  NJ: Prentice-Hall Inc., 1975.



Unknown

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar